MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran merupakan aktivitas yang
paling utamadalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti
keberhasilan pendidikan berpulang pada aktivitas pembelajaran yang
dilaksanakan. Pembelajaran pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak
yaitu: pendidik dan peserta didik. Keterlibatan dua pihak tersebut
merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human interaction).
Menurut Dimyati dan Mujiono, “Pembelajaran adalah kegiatan guru secara
terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar
secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”.[1]Itu
artinya pembelajaran bukanlah aktivitas spontan, tapi aktivitas yag
terencana mulai dari penentuan materi, metode sampai pada penggunaan
instrumen evaluasi pada seluruh mata pelajaran, termasuk mata pelajaran
PAI.
Pendekatan pembelajaran pendidikan agama
Islam selama ini masih bersifat normatif, dalam arti pendidikan agama
menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks sosial
budaya sehingga siswa kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai
yang hidup dalam keseharian. Selain itu, metodologi pendidikan agama
tidak kunjung berubah sejak dulu hingga sekarang, padahal masyarakat
yang dihadapi sudah banyak mengalami perubahan.[2] Sehingga tak
mengherankan jika kemudian PAI di sekolah jauh dari kenyataan yang
dihadapi siswa di lingkungannya. Tulisan ini berupaya mendeskripsikan
model pembelajaran kontekstual secara komperhensif.
- Pengertian
Model kontekstual adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan kepeada proses keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya
dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka.[3] Definisi tersebut menunjukkan
bahwa ada 3 kata kunci dalam model kontekstual; 1) Model kontekstual
menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi
(pengalaman), 2) Mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi
yang dipelajari dengan situasi nyata. 3) mendorong siswa untuk
menerapkannya dalam kehidupan.[4]
Model kontekstual merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.[5]
Model Kontekstual sebagai suatu proses
pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan
pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan
konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan
pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut,
sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu
melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti,
mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan
kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang
tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.[6]
Pengertian-pengertian di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan.
Dari pengertian di atas, maka ada beberapa kunci dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu: 1) Real World Learning
2) Mengutamakan pengalaman nyata, 3) Berfikir tingkat tinggi, 4)
Berpusat pada siswa, 5) Siswa aktif, kritis, dan kreatif, 6) Pengetahuan
bermakna dalam kehidupan, 7) Dekat dengan kehidupan nyata, 8) Perubahan
perilaku, 9) Siswa praktek bukan menghafal, 10) Learning not teaching,
11) Pendidikan bukan pengajaran, 12) Pembentukan manusia, 13)
Memecahkan masalah, 14) Hasil belajar diukur dengan berbagai cara
bukan hanya dengan Tes.[7]
- Latar belakang CTL; Filosofis dan Psikologis
Model kontekstual dipengeruhi oleh
filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan
selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat
kontruktivisme berangkat dari pemikiran epistemologi Giambastista.
Pandangan filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan
mempengaruhi konsep tentang hakikat proses belajar mengajar, bahwa
belajar bukan sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksi pengetahuan
melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang
lain seperti guru, tetapi hasil mengonstruksi yang dilakukan setiap
individu.[8]
Model konstektual berpijak pada aliran
psikologis kognitif, menurut aliran ini proses belajar terjadi karena
pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukan peristiwa mekanis
seperti keterkaitan stimulus dan respon, belajar melibatkan proses
mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan
atau pengalaman.[9] Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang
berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh
karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan
irama kemampuan siswa.
- Komponen Model Pembelajaran Kontekstual
Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:[10]
a) Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun
dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan
pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari pengalaman
hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi
siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.
b) Bertanya (questioning)
Penggunaan pertanyaan untuk menuntun
berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk
memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan
tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat
diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi,
dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing,
dan menilai kemampuan berpikir siswa.
c) Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan dari
pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari
pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat
melalui siklus menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara
pengujian hipotesis, membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori
serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.
Adapun langkah-langkah kegiatan
menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengamati atau melakukan observasi,
3) Menganalisis dan menyejikan hasil dalam tulisan, gambar laporan,
bagan, table atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan
hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang
lain.[11]
Secara singkat pola ini bertujuan untuk
melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan
memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya
secara intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan ilmiah.
Kemampuan tersebut dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat
dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang
benar.[12]
d) Masyarakat Belajar (learning community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok
siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar
lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan
berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama
untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep
ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik dari
pada belajar secara individual.
e) Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah proses penampilan suatu
contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak
jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras
dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat
pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru
menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang
baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan
melibatkan siswa.
f) Refleksi (reflection)
Refleksi memungkinkan cara berpikir
tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa
menggambarkan makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa
menelaah suatu kejadian, kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang
apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa
menggunakan pengatahuan baru tersebut. Refleksi dapat ditulis di dalam
jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau merupakan kegiatan kreatif
seperti menulis puisi atau membuat karya seni.
g) Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian autentik sesungguhnya adalah
suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai
metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa
dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas,
memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara
mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar
lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat
mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam
praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya
dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan
memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang
cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari
beberapa teknik penilaian.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar
menilai prestasi siswa, yaitu; proyek, PR, kuis, karya siswa,
presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil
tes tulis, karya tulis.[13]
- Perbedaan Model Kontekstual dan Pendekatan Tradisional
Ada beberapa perbedaan antara model kontekstual dengan model tradisional, yaitu:[14]
| No |
Model Kontekstual |
Tradisional |
| 1 |
Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran |
Siswa adalah penerima informasi secara pasif |
| 2 |
Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi. |
Siswa belajar secara individual |
| 3 |
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau yang disimulasikan |
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis |
| 4 |
Perilaku dibangun atas dasar kesadaran diri |
Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan |
| 5 |
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman |
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan |
| 6 |
Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri |
Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian (angka) rapor |
| 7 |
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan |
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman |
| 8 |
Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata |
Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham kemudian dilatihkan |
| 9 |
Pemahaman siswa dikembangkan atas dasar yang sudah ada dalam diri siswa |
Pemahaman ada di luar siswa, yang harus diterangkan, diterima, dan dihafal |
| 10 |
Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat dalam
mengupayakan terjadinnya proses pembelajaran yang efektif, ikut
bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan
membawa pemahaman masing-masing dalam proses pembelajaran |
Siswa secara pasif menerima rumusan atau pemahaman (membaca,
mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam
proses pembelajaran |
| 11 |
Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu
sendiri. Manusia diciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara
memberi arti dan memahami pengalamannya |
Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia |
| 12 |
Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan oleh manusia sendiri,
sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu
selalu berkembang. |
Bersifat absolut dan bersifat final |
| 13 |
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing |
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran |
| 14 |
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan |
Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa |
| 15 |
Hasil belajar diukur dengan berbagai cara : proses, bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll. |
Hasil belajar hanya diukur dengan hasil tes |
| 16 |
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting |
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas |
| 17 |
Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek |
Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek |
| 18 |
Perilaku baik berdasar motivasi intrinsic |
Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik |
| 19 |
Berbasis pada siswa |
Berbasis pada guru |
| 20 |
Seseorang berperilaku baik karena ia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat |
Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenagkan |
- Karakteristik Model Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menurut Muslich mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Pembelajaran dilaksanakan dalam
konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian
keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang
dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
5) Pembelajaran memberikan
kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling
memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
7) Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).[15]
Sedangkan menurut Yatim Riyanto, ciri-ciri pembelajaran kontekstual antara lain:
1) Kerjasama
2) Saling menunjang
3) Menyenangkan, tidak membosankan
4) Belajar dengan bergairah
5) Pembelajaran terintegrasi
6) Menggunakan berbagai sumber
7) Siswa aktif
8) Sharing dengan teman
9) Siswa kritis, guru kreatif
10) Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan sebagainya
11) Laporan kepada orang tua bukan saja
rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan
siswa, dan sebagainya.[16]
- Implementasi Model Kontekstual di Kelas
Contextual Teaching & Learning (CTL)
dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan
kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
a) Kembangkan pemikiran bahwa anak
akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c) kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d) Ciptakan masyarakat belajar.
e) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada
kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk
pembelajaran (
technology for instruction), pembelajaran
kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi
perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah
menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang
bertemu, yaitu:
- Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
- Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif filosofis
terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki
pasangan. Pada tahun 1916,
John Dewey, menulis sebuah buku
“Democracy and Education”
yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran
Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob
et al., 1996), adalah:
- Siswa hendaknya aktif, learning by doing
- Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
- Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
- Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
- Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling
memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur
demokratis sangat penting.
- Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.
Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992):
1. Belajar itu aktif dan konstruktif
Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif
dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau
mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.
2. Belajar itu bergantung konteks
Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah
menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa
terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.
3. Siswa itu beraneka latar belakang
Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti
latarbelakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi.
Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama,
dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama
dalam proses belajar.
4. Belajar itu bersifat sosial
Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.
Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:
1. Teori Kognitif
Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota
kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok
akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang
akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling
menghormati pendapat semu anggota semua kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena
pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi
siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat
dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam
kelompok.
Piaget dengan konsepnya
“active learning” berpendapat
bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara
kelompok, menurut pikiran mereka maka oleh sebab itu menjelaskan sebuah
pekerjaan lebih baik menampilkan di depan keras.
Piaget juga
berpendapat bila suatu kelompok aktif klompok tersebut akan melibatkan
yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik
(Smith, B.L. and Mac Gregor, 2004).
Tujuan Model Kolaborasi
Dalam penerapan pembelajaran kolaborasi, terdapat pergeseran peran si belajar (MacGregor, 2005):
- Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif, pemberi masukan dan suka diskusi.
- Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau sedang menjadi ke persiapan kelas dengan harapan yang tinggi.
- Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko atau
permasalahan menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan
permasalahan.
- Dari pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
- Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat.
- Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi tanggung jawab kelompok dan belajar saling ketergantungan.
- Dahulu melihat guru dan teks sebagai sumber utama yang memiliki
otoritas dan sumber pengetahuan sekarang guru dan teks bukanlah
satu-satunya sumber belajar. Banyak sumber belajar lainnya yang dapat
digali dari komunitas kelompoknya.
Gokhale mendefinisikan bahwa
“collaborative learning”
mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang
bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang
mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
- Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama
dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di
dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
- Patel berpendapat bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar kolaborasi adalah
suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang
bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam
kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain.
Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif
untuk mencapai kesuksesan.
Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran
dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi
pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar
kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu,
melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa
membedakan percakapan belajar siswa.
Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana
cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi.
Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
- Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
- Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
- Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
- Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
- Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
- Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
- Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
- Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
- Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
Langkah-langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
- Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
- Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
- Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi,
mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan
jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan
sendiri.
- Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah,
masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
- Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya
diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan
presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa
pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi
tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang
20-30 menit.
- Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi,
inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan
dikumpulan.
- Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
- Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan
oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli
Student Team Learning pada
John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
- Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa
yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan
mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja
kelompok.
- Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu
kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan
tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai
yang diperoleh kelompok.
- Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian
beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan
apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya
berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam
situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar
masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota
kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan
pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan,
hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian
didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan
posisi yang dipilihnya.
- Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas
yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat
memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang
menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
- Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan
sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh
terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok
akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian
didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
- Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang
berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan
pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan
semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya
digunakan dalam pembelajaran yang bersifat
bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran
kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap,
setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan
sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama
dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar,
setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang
siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia
harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal
disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada
hasil belajar individual maupun kelompok.
- Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai
tutor dan yang lain menjadi
tutee.
Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh
tutee. Bila jawaban
tutee benar,
ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam
selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang
saling berpasangan itu berganti peran.
- Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model
pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata
bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan
membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di
dalam kelompoknya.
Keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta yang berpartisipasi dalam model pembelajaran kolaboratif adalah:
- Pembentukan kelompok
- Bekerja dalam satu kelompok
- Pemecahan masalah kelompok
- Manajemen perbedaan kelompok
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan,
minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai,
siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas,
misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok
tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus
berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun
gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu
setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok.
Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama
kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses
transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang
prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap
kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu
kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati,
membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab
antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima
pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan
pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus
bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama
dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini
setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat
dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai
bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun
menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak
sukses.
2. Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya
komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan
positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam
pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen,
elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk
mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar
dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu
sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan
pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab
untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap
hasil belajar kelompok.
4. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran.
Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam
kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan
membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa
harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun
dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan
secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik.
Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan
tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta
membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang
perlu diubah.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut
tutor, sedangkan siswa yang lain disebut
tutee.
2. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan
atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk
mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya.
Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah,
sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
- Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan
dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua
anggota bekerja bersama.
- Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
- Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
- Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
- Peran guru sebagai mediator.
- Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
- pengelompokkan secara heterogen.
E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
1. Kelebihan
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d. Dapat memupuk rasa kerja sama
e. Adanya persaingan yang sehat
2. Kelemahan
a. Padapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b. Membutuhkan waktu cukup banyak.
c. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau
sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada
orang lain.
d. Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.