EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM
DALAM PEMBELAJARAN SAINS
A. Pengertian
Quantum
learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh
proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat
belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik
yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah
populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik
yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan
bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait
dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya
Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria.
Pembelajaran
kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaituquantum learning. “Quantum
Learning adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses
belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar
sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter &
Mike Hernacki, 2011:16 ).
Dengan
demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang
menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada
tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.
Selanjutnya,
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai
karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu
sebagai berikut.
1. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif,
bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan
positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
3. Pembelajaran kuantum lebih bersifat
konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau
maturasionistis.
4. Pembelajaran kuantum berupaya memadukan
(mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri
manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks
pembelajaran.
5. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada
interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
6. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada
pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
7. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan
kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang
dibuat-buat.
8. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan
dan kebermutuan proses pembelajaran.
9. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan
konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang
memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau
mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
10. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada
pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi
fisikal atau material.
11. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan
sebagai bagian penting proses pembelajaran.
12. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan
kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
13. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh
dan pikiran dalam proses pembelajaran.
B. Tujuan
Menurut
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran
kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut.
1. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
2. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
3. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang
dibutuhkan oleh otak.
4. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan
karir.
5. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran
kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan
belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan
kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu pembelajaran.
Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam
pembelajaran kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro.
Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan
berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar
yang teratur. Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk
menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi
sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat
berhubungan secara aktif dengan masyarakat.
Selain itu, Bobbi DePorter,et al., (2004:14)
menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan
yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja
dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”.
Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum
sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari
peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari
model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.
C. Keunggulan dan Kelemahan Model pembelajaran Kuantum(Quantum
Learning)
Bobbi
DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam bukunya yang berjudul ”Quantum
Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari
pembelajaran kauntum (quantum learning).
Keunggulan
1. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi
kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep
kuantum dipakai.
2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan
positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
3. Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan
positivistis-empiris, behavioristis.
4. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi
yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
5. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada
pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6. Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan
kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang
dibuat-buat.
7. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan
dan kebermutuan proses pembelajaran.
8. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan
konteks dan isi pembelajaran.
9. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada
pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi
fisikal atau material.
10. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan
sebagai bagian penting proses pembelajaran.
11. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan
kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
12. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh
dan pikiran dalam proses pembelajaran.
Kelemahan
1. Membutuhkan pengalaman yang nyata
2. Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam
belajar
3. Kesulitan mengidentifikasi keterampilan siswa
Berdasarkan
pemaparan keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum, pembelajaran kauntum
sangat memperhatikan keaktifan serta kreatifitas yang dapat dicapai oleh
peserta didik. Pembelajaran kuantum mengarahkan seorang guru menjadi guru yang
“baik”. baik dalam arti bahwa guru memiliki ide-ide kreatif dalam memberikan
proses pembelajaran, mengetahui dengan baik tingkat kemampuan siswa.
D. Prinsip Model Pembelajaran Kuantum (Quantum
Learning)
Adapun
prinsip-prinsip pembelajaran kuantum (quantum learning ) adalah
sebagai berikut.
1. Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah
Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia
Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar).
2. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa
proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni.
Adapun
manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kuantum (quantum
learning) menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:13)
diantaranya:
1. Sikap positif
2. Motivasi
3. Keterampilan belajar seumur hidup
4. Kepercayaan diri
5. Sukses
E. Model-model
Pembelajaran Quantum Learning
1. Peta konsep
Peta konsep sebagai
teknik belajar efektif. Peta konsep disini lebih menunjukkan pada keuangan
ide-ide pikiran sebagai catatan dalam grafis sebagai salah satu teknik belajar
efektif. Peta konsep berupa ide pemikiran yang di tuangkan dalam bentuk
gambaran atau grafik.
Menurut Nacy
Murgilulier yang dikutip Rose dan Nicholl sebelum belajar kita
memvisualisasikan gambar dengan pikiran kita dan mengkaitkannya dengan
konsep-konsep.
2. Teknik Memori
Teknik memori adalah teknik memasukkan informasi ke dalam otak sesuai
dengan cara kerja otak (brain-based technique). Dalam teknik ini perlu
meningkatkan efektifitas dan efisiensi otak dalam menyerap dan menyimpan
informasi. Daya ingat kita dapat ditingkatkan dan menurut Gunawan (2004) otak
suka dengan hal yang bersifat: Ekstem berlebihan/tidak masuk akal, Penuh warna, Multi sensor, Lucu, Melibatkan emosi, Melibatkan irama atau musik, Tindakan aktif, Gambar tiga domensi dan hidup/aktif, Menggunakan asosiasi, Imajinasi, Humor, Simbol, Nomor dan urutan.
Teknik memori memiliki hambatan yaitu orang tua atau guru menganggap konyol
jika kita berfikir tidak masuk akal. Namun cara ini sangat efektif karena otak
kita menyimpan gambar dan makna.
3. Teknik Plesetan
Kata
Teknik plesetan kata yaitu menggantikan kata sulit yang ingin kita hafal
dengan kata lain yang bunyinya mirip atau lucu.
4. Sistem
Pasak Lokasi
Sistem pasak lokasi yaitu teknik mengakses dan mengaktifkan memori semantik
dan episodik. Saat kita berusaha menghafal, kita mengaktifkan memori semantik.
Informasi yang kita dapat kemudian dicantolkan pada lokasi yang berarti
mengaktifkan memori episodik. Dalam memilih lokasi sefarusnya lokasinya sudah
kita kenal agar kiya tidak salah mengingat apa yang masuk dalam memasukkan
memori. Jumlah lokasi tergantung pada kata yang ingin dihafal. Untuk menentukan
kekuatan informasi pada memori tergantung pada dua hal yaitu:
a)
Seberapa baik kita
menentukan alur lokasi (harus urut)
b)
Seberapa baik
visualisasi yang dilakukan
Misalnya anda diminta untuk menghapal cerita nama hewan yang
dilindungi di Indonesia seperti di bawah ini
a)
Bangau Hitam
b)
Biawak Pohon
c) Burung Udang
d) Harimau Sumatra
e) Monyet Hitam
f) Kakak Tua Raja
g) Orang Hutan Kalimatan
h)
Jalak putih
Karena ada delapan data, maka kita membutuhkan delapan lokasi Kita ambil
rumah anda sebagai contoh. Sekarang kita tentukan lokasinya.
a) Jalan di depan rumah anda
b) Pintu pagar rumah anda
c) Halaman depan rumah
d) Pintu masuk utama
e) Ruang tamu
f) Tembok di ruang tamu
g) Ruang keluarga
h)
Lemari es (yang ada di
ruang makan)
Untuk itu anda harus melakukan atau membayangkan hal berikut ini sewaktu
anda pulang ke rumah. Dalam proses anda masuk ke rumah, anda melihat hal
berikut ini :
a) Bayangkan ada seekor bangau hitam yang berdiri di jalan di depan rumah
anda.
b) Pada pintu pagar rumah anda ada seekor biawak yang menggigit sebatang pohon
(biawak pohon).
c) Dihalaman didepan rumah anda hinggap seekor burung yang membawa udang
diparuhnya (burung udang)
d)
Saat mau mau masuk ke
rumah, pintu dijaga oleh seekor harimau Sumatra yang sedang mengaum
5. Teknik
Akrostik (Jembatan Keledai)
Teknik akrostik adalah
teknik menghafal dengan mengambil huruf depan dari materi yang ingin diingat
dan kemudian digabungkan hingga menjadi singkatan atau kata/kalimat lucu.
Contoh:
a) Mejikuhibiniu (Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu),
b) Hari libur naik kuda, rabu kamis free (singkatan dari unsur kimia golongan
IA: H, Li, Natrium, K, Cs, Fr)
c) Cewek sinting genit senang plembungan (singkatan dari unsur kimia golongan
IV A: C, Si, Gn, Sn, Pb)
G.
Kerangka Rancangan Belajar Quantum Learning
1. Tumbuhkan: Tumbuhkan minat, motivasi, empati, simpati
dan harga diri dengan memuaskan “Apakah Manfaat BagiKU”
(AMBAK), dan manfaatkan kehidupan siswa.
2. Alami: Hadirkan pengalaman umum yang dapat di mengerti dan dipahami semua
pelajar.
3. Namai: Sediakan kata
kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah masukan.
4. Demonstrasikan: Sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa
mereka tahu dan ingat setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam
menyelesaikan pekerjaan.
5. Ulangi: Tunjukkan
siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan “Aku tahu dan memang tahu ini”.
Sekaligus berikan kesimpulan.
6. Rayakan: Pengakuan
untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan ketrampilan dan ilmu
pengetahuan.
Dari tulisan di atas, ada beberapa hal yang ingin ditanyakan:
1. Apakah model pembelajaran Quantum sudah cocok digunakan pada pembelajaran sains kurikulum 2013?
2. Apakah model pembelajaran Quantum bisa digunakan pada seluruh mata pelajaran?
3. Bisakah model pembelajaran Quantum digunakan pada seluruh tingkat satuan pendidikan? seperti di SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi sekalipun?