Pengertian Pembelajaran Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses sains adalah
pendekatan yang didasarkan pada anggapan bahwa sains itu terbentuk dan
berkembang melalui suatu proses ilmiah. Dalam pembelajaran sains, proses
ilmiah tersebut harus dikembangkan pada siswa sebagai pengalaman yang bermakna.
Bagaimanapun pemahaman konsep sains tidak hanya mengutamakan hasil (produk)
saja, tetapi proses untuk mendapatkan konsep tersebut juga sangat penting dalam
membangun pengetahuan siswa. Keterampilan ilmiah dan sikap ilmiah memiliki
peran yang penting dalam menemukan konsep sains. Siswa dapat membangun
gagasan baru sewaktu mereka berinteraksi dengan suatu gejala. Pembentukan
gagasan dan pengetahuan siswa ini tidak hanya bergantung pada karakteristik objek,
tetapi juga bergantung pada bagaimana siswa memahami objek atau memproses
informasi sehingga diperoleh dan dibangun suatu gagasan baru.
Keterampilan proses
ialah keterampilan intelektual / keterampilan berpikir yang membuat siswa
kreatif dan dapat menolong siswa bagaimana
belajar. Keterampilan prosessains diperlukan dalam kegiatan
ilmiah di sekolah maupun di kemudian hari.
Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Keterampilan
Proses Sains
Ada enam karakterteristik dasar
keterampilan proses sains, diantarnya:
a.
Pengamatan (Observation)
Mengamati adalah keterampilan proses
sains yang paling awal. Kita mengamati benda-benda dan peristiwa menggunakan semua
panca indera kita, yang berarti kita belajar tentang dunia di sekitar kita. Kemampuan
untuk membuat pengamatan yang baik sangat penting untuk perkembangan
keterampilan proses sains lainnya, yaitu: berkomunikasi, mengklasifikasi, mengukur,
menyimpulkan, dan memprediksi. Pengamatan sederhana dibuat hanya menggunakan indera,
yang biasanya menghasilkan pengamatan kualitatif (misalnya: daun berwarna
hijau, nula lilin lemah,dll). Pengamatan yang melibatkan angka atau
kuantitas adalah pengamatan kuantitatif misalnya: massa satu daun adalah lima
gram, jumlah daun bergerombol dalam kelompok adalah lima). Pengamatan
kuantitatif memberikan informasi yang lebih tepat dibandingkan informasi dari
indera kita saja. Tidak mengherankan, jika siswa terutama yang masih kecil,
membutuhkan bantuan untuk membuat pengamatan yang baik.
Pengamatan baik jika hasil
pengamatan rinci dan akurat. Siswa harus diminta untuk mendeskripsikan
pengamatan berupa tulisan atau gambar selengkap mungkin. Informasi hasil
pengamatan siswa harus dibuat dengan penuh rincian karena akan dapat
meningkatkan pemahaman mereka tentang konsep yang sedang dipelajari. Jika siswa
mengamati dengan panca indera mereka atau dengan instrumen, kita dapat
membimbing mereka agar membuat deskripsi lebih baik dan lebih rinci. Kita dapat
melakukan ini dengan mendengarkan pengamatan awal siswa dan kemudian mendorong
mereka untuk menjelaskan. Misalnya, jika seorang siswa menjelaskan apa yang dia
lihat, mereka mungkin hanya menggambarkan warna suatu objek tetapi tidak ukuran
atau bentuknya. Seorang siswa mungkin menggambarkan volume suara namun tidak
pitch atau iramanya. Kita dapat mendorong siswa untuk menambahkan rincian
deskripsi mereka dan tidak hanya dari lima indera yang mereka gunakan.
b.
Komunikasi (Communication)
Komunikasi adalah keterampilan
proses sains yang ke dua, bergandengan dengan pengamatan. Siswa harus
berkomunikasi dalam rangka membagikan hasil pengamatan kepada orang lain, dan
komunikasi harus jelas dan efektif agar orang lain dapat memahami informasi
tersebut. Salah satu kunci untuk berkomunikasi efektif adalah dengan
menggunakan rujukan (referensi). Kita mungkin mengatakan langit biru, rumput
hijau, atau lemon kuning untuk menggambarkan nuansa biru, hijau, atau kuning.
Idenya adalah untuk berkomunikasi menggunakan deskripsi kata-kata yang baik
untuk berbagi pemahaman dengan orang-orang pada umumnya. Tanpa rujukan, kita
telah membuka pintu kesalahpahaman. Jika kita hanya mengatakan panas atau
kasar, mungkin pendengar mempunyai gagasan yang berbeda tentang bagaimana panas
atau kasar. Jika siswa mencoba untuk menjelaskan ukuran diameter kelereng
mereka mungkin menggunakan ukuran sepatunya sebagai suatu rujukan. Diameter
kelereng bisa lebih besar atau lebih kecil dari sepatu siswa tersebut.
c.
Pengukuran (Measurement)
Proses tambahan keterampilan
mengukur menjadi kasus khusus dari mengamati dan berkomunikasi. Ketika kita
mengukur beberapa benda, kita membandingkan benda tersebut untuk didefinisikan
dengan rujukan yang disebut satuan. Sebuah informasi hasil pengukuran berisi
dua bagian yaitu angka untuk memberitahu berapa banyak, dan nama satuan untuk
memberitahu kita berapa banyak dengan rujukan apa. Siswa dapat
mengkomunikasikan hasil pengamatan mereka secara lisan, secara tertulis, atau
dengan gambar. menggambar. Metode lain untuk mengkomunikasikan hasil pengamatan
yang sering digunakan adalah grafik, diagram, peta, dan demonstrasi visual.
d.
Pengelompokan (Classification)
Siswa di kelas-kelas awal diharapkan
dapat memilah benda-benda atau fenomena ke dalam kelompok berdasarkan
pengamatan mereka. Pengelompokan obyek atau peristiwa adalah cara memilah objek
berdasarkan kesamaan, perbedaan, dan hubungan. Ini merupakan langkah penting
menuju pemahaman yang lebih baik tentang objek yang berbeda dari gejala alam.
Ada beberapa metode yang berbeda
dalam melakukan klasifikasi. Metode yang paling sederhana adalah klasifikasi
serial. Objek ditempatkan dalam urutan peringkat didasarkan pada beberapa
persyaratan, misalnya siswa dikelompokkan berdasarkan tingginya. Dua metode
lainnya adalah klasifikasi biner dan klasifikasi bertingkat. Dalam sistem
klasifikasi biner, satu set objek yang sederhana dibagi menjadi dua himpunan
bagian. Hal ini biasanya dilakukan atas dasar apakah setiap objek memiliki atau
tidak memiliki syarat tertentu. Misalnya, hewan dapat diklasifikasikan menjadi
dua kelompok yaitu hewan dengan tulang punggung dan hewan dengan tanpa tulang punggung. Sebuah klasifikasi biner
juga dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu persyaratan. Objek
dalam satu kelompok harus memiliki semua sifat-sifat yang diperlukan, jika
tidak mereka akan menjadi milik kelompok
lain.
e.
Kesimpulan (Inference)
Tidak seperti pengamatan yang buktinya
langsung terkumpul di sekitar obyek, kesimpulan adalah penjelasan atau tafsiran
(interpretasi) yang dibuat berdasarkan pengamatan. Ketika kita mampu membuat kesimpulan,
menafsirkan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekitar kita, kita memiliki apresiasi
yang lebih baik terhadap lingkungan di sekitar kita. Para ilmuwan mengemukakan hipotesis
tentang mengapa suatu peristiwa dapat terjadi, didasarkan pada
kesimpulannya tentang hasil penyelidikan (investigasi). Siswa perlu diajarkan bagaimana
membedakan antara pengamatan dan kesimpulan. Mereka harus mampu membedakan dengan
bukti yang mereka kumpulkan mengenai alam antara pengamatan dengan tafsiran
mereka berdasarkan pengamatan atau kesimpulan.
Kita dapat membantu siswa membuat perbedaan ini dengan terlebih dahulu mendorong mereka untuk mendeskripsikan pengamatan mereka menjadi rinci. Kemudian, dengan member pertanyaan-pertanyaan siswa tentang pengamatan mereka kita dapat mendorong siswa untuk berpikir tentang makna dari pengamatan. Berpikir untuk membuat kesimpulan dengan cara ini mengingatkan kita untuk mengkaitkan kesimpulan apa yang telah diamati dengan apa yang sudah diketahui dari pengalaman sebelumnya. Kita menggunakan pengalaman masa lalu untuk membantu menafsirkan hasil pengamatan.
Kita dapat membantu siswa membuat perbedaan ini dengan terlebih dahulu mendorong mereka untuk mendeskripsikan pengamatan mereka menjadi rinci. Kemudian, dengan member pertanyaan-pertanyaan siswa tentang pengamatan mereka kita dapat mendorong siswa untuk berpikir tentang makna dari pengamatan. Berpikir untuk membuat kesimpulan dengan cara ini mengingatkan kita untuk mengkaitkan kesimpulan apa yang telah diamati dengan apa yang sudah diketahui dari pengalaman sebelumnya. Kita menggunakan pengalaman masa lalu untuk membantu menafsirkan hasil pengamatan.
Seringkali kesimpulan yang berbeda
dapat dibuat berdasarkan pengamatan yang sama. Kesimpulan kita juga bisa
berubah seiring dengan hasil pengamatan tambahan. Pada umumnya kita lebih
percaya diri tentang kesimpulan kita ketika pengamatan yang diperoleh cocok
dengan pengalaman masa lalu. Kita juga lebih percaya diri tentang kesimpulan
saat mengumpulkan lebih banyak bukti pendukung. Ketika siswa mencoba untuk
membuat kesimpulan, mereka sering harus kembali dan membuat pengamatan tambahan
agar menjadi lebih percaya diri dalam mengambil kesimpulan kesimpulan.
Kadang-kadang membuat pengamatan tambahan akan memperkuat kesimpulan, tapi
kadang-kadang informasi tambahan akan menyebabkan kita untuk memodifikasi atau
bahkan menolak kesimpulan sebelumnya. Dalam ilmu pengetahuan, kesimpulan
tentang bagaimana segala sesuatu bekerja secara terus menerus dibangun, diubah,
dan bahkan ditolak berdasarkan pengamatan baru.
f.
Ramalan (Prediction)
Membuat
ramalan (prediksi) adalah membuat dugaan secara logis tentang hasil dari
kejadian masa depan. Kemampuan untuk membuat ramalan tentang kejadian di masa
depan memungkinkan kita untuk berhasil berinteraksi dengan lingkungan sekitar
kita. Ramalan ini didasarkan pada pengamatan yang baik dan kesimpulan yang
dibuat tentang kejadian yang diamati. Seperti kesimpulan, ramalan didasarkan
pada apa yang kita amati dan masa lalu kita sehingga mengalami model mental
yang terbangun dari pengalaman-pengalaman. Jadi meramal tidak hanya sekedar
menebak, tetapi harus berdasarkan kesimpulan kita atau hipotesis tentang
peristiwa yang memberi kita cara untuk menguji kesimpulan atau hipotesis. Jika
ramalan tersebut ternyata benar, maka kita memiliki keyakinan lebih besar pada
inferensi /hipotesis. Ini adalah dasar dari proses ilmiah yang digunakan oleh
para ilmuwan yang bertanya dan menjawab pertanyaan dengan mengintegrasikan
bersama-sama enam keterampilan ilmu dasar proses.
Singkatnya, keberhasilan dalam
mengintegrasikan keterampilan proses sains dalam pelajaran di kelas dan
penyelidikan (investigasi) lapangan akan membuat pembelajaran memberikan
pengalaman yang lebih kaya dan lebih bermakna bagi siswa. Siswa akan belajar
keterampilan sains serta isi sains, dan secara aktif terlibat dengan sains yang
mereka pelajari , dan dengan demikian dapat mencapai pemahaman yang lebih
dalam. Akhirnya, keterlibatan aktif dengan sains kemungkinan akan menyebabkan
siswa menjadi lebih tertarik dan memiliki sikap lebih positif terhadap
sains.
Teknik Penilaian
Penilaian
hasil belajar dapat menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai. Ditinjau dari tekniknya, penilaian dibagi
menjadi dua yaitu tes dan non tes.
a.
Teknik Tes
Teknik
tes merupakan teknik yang digunakan melaksanakan tes berupa pertanyaan yang
harus dijawab, pertanyaan yang harus ditanggapi atau tugas yang harus
dilaksanakan oleh orang yang di tes. Dalam hal tes hasil belajar yang hendak
diukur adalah kemampuan peserta didik dalam menguasai pelajaran yang
disampaikan meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
Berdasarkan alat pelaksanaannya secara garis besar
alat penilaian dengan teknik tes dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1) Tes Tertulis
Tes tertulis adalah
suatu teknik penilaian yang menuntut jawaban secara tertulis, baik berupa
pilihan maupun isian. Tes tertulis dapat digunakan pada
ulangan harian atau ulangan tengah dan akhir semester atau ulangan kenaikan
kelas. Tes tertulis dapat berbentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah,
isian singkat, atau uraian (essay).
2) Tes Lisan
Tes
lisan adalah teknik penilaian hasil belajar yang
pertanyaan dan jawabannya atau pernyataannya atau tanggapannya disampaikan
dalam bentuk lisan dan spontan. Tes
jenis ini memerlukan daftar pertanyaan dan pedoman pensekoran.
3) Tes
Praktik/Perbuatan
Tes
praktik/perbuatan adalah teknik penilaian hasil belajar yang
menuntut peserta didik mendemontrasikan kemahirannya atau menampilkan hasil
belajarnya dalam bentuk unjuk kerja. Tes praktik/perbuatan dapat berupa tes
identifikasi, tes simulasi dan tes petik kerja. Tes identifikasi dilakukan
untuk mengukur kemahiran mengidentifikasi sesuatu hal berdasarkan fenomena yang
ditangkap melalui alat indera. Tes
simulasi digunakan .untuk mengukur kemahiran bersimulasi memperagakan suatu
tindakan. Tes petik kerja digunakan untuk mengukur kemahiran mendemonstrasikan
pekerjaan yang sesungguhnya.
b.
Teknik Nontes
Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk
memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian.
Selama ini teknik nontes kurang digunakan dibandingkan teknis tes.
Dalam proses pembelajaran pada umumnya kegiatan penilaian mengutamakan
teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek pengetahuan dan
keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru pada saat
menentukan siswa. Seiring dengan berlakunya kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar
maka teknik penilaian harus disesuaikan dengan:
- kompetensi
yang diukur;
- aspek
yang akan diukur, pengetahuan, keterampilan atau sikap;
- kemampuan
siswa yang akan diukur;
- sarana
dan prasarana yang ada.
Teknik
penilaian nontes bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok,salah satu
contohnya adalah Pengamatan/observasi.
Pengamatan/observasi
adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indera
secara langsung. Observasi dilakukan dengan cara menggunakan instrumen yang
sudah dirancang sebelumnya.
Alat/instrumen untuk
penilaian melalui pengamatan dapat menggunakan skala sikap dan atau angket
(kuesioner).
Skala
sikap
Skala
sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap
tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, misalnya skala
tiga, empat atau lima. Pengembangan skala sikap dapat mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut.
a. Menentukan
objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap terhadap kebersihan.
b. Memilih
dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek
penilaian sikap. Misalnya : menarik,
menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.
c. Memilih
kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
d. Menentukan skala dan penskoran.
Dari tulisan diatas, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:
1. Apakah karakterteristik dasar keterampilan proses sains juga bisa diterapkan pada pembelajaran yang bukan sains?
2. Adakah perbedaan penilaian proses pembelajaran sains dengan pembelajaran yang bukan sains?
Dari tulisan diatas, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:
1. Apakah karakterteristik dasar keterampilan proses sains juga bisa diterapkan pada pembelajaran yang bukan sains?
2. Adakah perbedaan penilaian proses pembelajaran sains dengan pembelajaran yang bukan sains?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar